Peci yang kelak kemudian akrab melekat di kepala Bung Karno tidak ia dapatkan begitu saja. Tengoklah peci yang awal mula digunakan oleh Bung Karno (kiri), dan peci yang dikenakkan setelahnya. Jelas berbeda.
Peci itu merupakan pemberian seorang pimpinan Pondok Pesantren Darul Funum El Abbassiyah di Payakumbuh, Syekh Abbas Abdullah.Tak mudah untuk mencapai pondok pesantren ini. Setelah 18 km rombongan Bung Karno melalui jalan berdebu, rombongan ini harus menuruni ratusan anak tangga yang terbuat dari sabuk kelapa, kemudian meniti pematang jalan sejauh 600 m yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. "Peci ini kuberikan kepadamu sebagai tanda bahwa mayoritas rakyat Indonesia ini adalah umat Islam", kata Syekh Abbas sambil menyerahkan peci itu.
"Umat akan mendukung kamu selama kamu tidak memisahkan agama dan pemerintah. Kamu juga harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang bisa menghancurkan negara yang kamu bentuk nanti'. Bung Karno mencoba peci hitam yang agak tinggi itu. Beberapa kali berkaca sesekali dengan senyuman bangga menikmati penampilan barunya itu. Gagah. "Kamu harus pandai-pandai menjaga martabatmu! Gigi taring kananmu yang berdempet itu biasanya bermakna rimbang mata, artinya kamu mudah jatuh cinta pada wanita". Syekh Abbas meneruskan nasehatnya dengan disambut senyum oleh Bung Karno.
Simak lengkapnya di buku "Proklamasi sebuah Rekonstruksi"

Show Disqus Comment Hide Disqus Comment